Gallery

PERIH BAHASA TKW

Selama ini pepatah atau peribahasa sering kita dipakai untuk menggambarkan kehidupan seseorang atau di jadikan sebagai prinsif hidup seseorang. Lalu apa yang kita pikirkan ketika membaca atau mendengar pepatah yang mengatakan  “Hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari pada hujan emas di negeri tetangga? Biasanya secara otomatis  pikiran bawah sadar kita langsung teringgat Ibu, Bibi, atau Tetangga kita yang saat ini bekerja menjadi TKW di luar negeri.

 

Terlepas dari bagaimana Anda mengartikan peribahasa tersebut. Namun satu hal yang masih sering kita dengar mengenai Negara kita tercinta ini yang konon katanya “gemah ripah loh jinawi” ternyata sampai sekarang belum bisa menyejahterakan rakyatnya. Fenomena yang terjadi saat ini banyak sekali perempuan maupun laki-laki yang berada dalam masa produktif terkondisikan lebih memiliki motivasi kuat untuk menjadi TKI/TKW di luar negeri. Dan jumlah TKI/TKW yang bekerja ke luar negeri terus meningkat drastis dari tahun ke tahun. Permasalahan ekonomi sangat mendukung motivasi kepergian para TKW tersebut. Permasalahan ekonomi tersebut salah satunya disebabkan oleh kurang berkembangnya sektor industri yang menjadikan kurangnya lapangan pekerjaan.

Selain dipengaruhi oleh faktor ekonomi juga dipengaruhi oleh permasalahan sosial budaya. Kita menyadari bahwa Masyarakat Kendal telah terkontaminasi oleh budaya metropolis yang cenderung berfoya-foya. Keinginan untuk menjadi orang kaya dan hidup mewah ini mendorong baik perempuan maupun laki-laki untuk berlomba-lomba mencari penghasilan tinggi, bahkan dengan jalan pintas sekali pun. Uang selalu dijadikan faktor utama. Hal inilah yang bisa berdampak buruk bagi anak anak perempuan kita sehingga terkondisikan untuk mengikuti jejak generasi sebelumnya yaitu: ibu, bibi, dan tetangga. Mereka memperoleh informasi dan pelajaran dari generasi sebelumnya untuk mendapatkan uang banyak dengan menjadi TKW.

Bicara mengenai dampak dari pengiriman para TKW keluar negeri, tentu kita sepakat bahwa hal itu berdampak negatif maupun positif. Kita sering mendengar kisah-kisah seputar TKW yang terlalu sering menghiasi media cetak dan elektronik, baik kisah sukses maupun kisah-kisah yang tidak jarang memaksa kita untuk mngernyitkan kening atau bahkan membuat kita geram.

PAHLAWAN devisa adalah sebutan yang tidak asing lagi bagi Tenaga Kerja Wanita (TKW ). Kritik maupun dukungan terhadap program pengiriman TKW terus memicu perdebatan di masyarakat kita. Tetapi semangat untuk meningkatkan taraf hidup itulah yang menjadi salah satu spirit mulia dan membentuk karakter mereka untuk bersedia menjadi TKW.

BMI Di HONGKONG

Kita tahu, bahwa sebagian besar dari mereka memiliki pendidikan yang mungkin tidak cukup memenuhi kualifikasi sebagai pekerja asing. Meskipun demikian, keberanian para TKW patut mendapatkan penghargaan yang layak. Sebab dari keberanian mereka itulah  , negara menerima devisa yang besar dan bahkan mengurangi beban pemerintah dalam mengatasi masalah pengangguran. Kalau kita cermati, banyak permasalahan yang dihadapi para TKW yang layak mendapatkan perhatian Pemerintah seperti :

1 Permasalahan yang di anggap sebagai kekeliruan majikan  seperti :

-  Gaji tidak dibayar.
–  Pekerjaan tidak sesuai dengan perjanjian kerja.
–  Perlakuan tidak manusiawi atau dianiaya majikan.
–  Pelecehan seksual.
– Di pindahkan keorang lain secara illegal atau habis kontrak tapi tidak   dipulangkan.

 2 Permasalahan yang di anggap bukan sebagai kekeliruan majikan seperti :

-  Tidak siap mental.

-  Masalah SDM (minimnya pendidikan)

-  Sakit.

-  Kurangnya perlindungan hukum.

-  Masalah iklim dan budaya.

-  Mengelola keuangan.

-  Masalah keluarga. Dll

Namun bagi kita yang percaya bahwa setiap permasalahan pasti ada solusinya.  Baik masalah kecil atau besar, ringan atau berat, lama atau sementara ,pasti ada solusinya asalkan semua pihak memiliki komitmen yang jelas. Satu hal yang sangat–sangat penting bagi para TKW dalam menghadapi berbagai permasalahan yang terjadi adalah bagaimana mempersiapkan mental para TKW itu sendiri.  Kita tahu dan memang benar jika calon TKW oleh PJTKI saat masih di balai latihan kerja di bekali ketrampilan bahasa dan ketrampilan yang di perlukan, tapi hal itu masih belum sesuai harapan. Setiap hari mereka juga dijejali berbagai macam “motivasi” baik melalui siaran TV, VCD atau media lainnya.  Tetapi ” motivasi” yang  tidak difokuskan atau tidak sesuai dengan kebutuhan calon TKW, justru menjadikan mereka terbebani dengan berbagai keinginan yang membelenggu pikiran mereka. Motivasi bisa di ibaratkan seperti suplemen,  multivitamin atau obat dan jika hal itu tidak sesuai dengan kebutuhan mereka justru akan berdampak negatif.       

Untuk itu ada beberapa hal penting dalam mempersiapkan mental para calon TKW antara lain :

  • Bagaimana mempersiapkan mental (mengelola emosi dengan baik dan berpikir jernih) ketika menghadapi berbagai permasalahan yang di anggap sebagai kekeliruan dari majikan atau bukan kekeliruan majikan. Sebab kita tidak dapat mengontrol apa yang akan terjadi di masa mendatang. Tetapi kita bisa mengontrol sikap kita dalam menghadapi apa yang terjadi. Nah….ketika calon TKW telah memiliki kecerdasan emosional di harapkan mereka akan lebih mampu dan bijak dalam mengambil sikap menghadapi berbagai permasalahan yang mungkin terjadi.
  •  Bagaimana mengelola emosi dengan baik , saat mereka bekerja jauh dari keluarga . Hal ini sangat penting sebab banyak TKW yang kesulitan mempertahankan keutuhan rumah tangganya di karenakan berbagai alasan.
  • Bagaimana mengelola keuangan dengan baik. Hal ini supaya hasil keringat mereka selama bekerja di luar negeri tidak sia-sia, sehingga, ketika masa kontrak selesai dan tidak bisa meneruskan bekerja di luar negeri karena faktor usia, mereka telah mempunyai simpanan uang  yang bisa digunakan untuk modal usaha.
  • Bagaimana mereka dapat mengantipasi dampak negatif dari perbedaan budaya dan kondisi iklim di luar negeri serta dampak negatif dari pergaulan di sana sehingga tidak terjerumus ke hal hal negatif. Dll

Hal ini perlu disadari oleh semua pihak bahwa TKW merupakan salah satu kelompok tenaga kerja yang cukup lemah, di mana seseungguhnya menjadi TKW sangat rawan terhadap perilaku sewenang-wenang dari orang lain. Banyak hal yang bisa berpotensi negatif yang membuat para TKW terpojok.  Nah….. untuk lebih mengerti bagaimana suka dukanya menjadi TKW silahkan klik  Babu Ngeblog di sini.

Salam Selaras….. Mas Karyadi Ch

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s