Berbagai Potensi DAYA PIKIR

Seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya maka pada artikel ini akan coba dibedah tentang berbagai macam potensi daya pikir dilihat dari kekuatan interaksi antara naluri (otak kiri) dan logika (otak kanan).

Pada intinya bagi mereka yang telah mampu mengoptimalkan “daya pikir” mereka hingga pada batas yang menurut orang biasa tidak lazim. Mereka meyakini bahwa secara logis telah dibuktikan otak yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan sel syaraf pada dasarnya mengandung kombinasi hubungan antar sel yang jumlahnya hampir tak terhingga. Terciptanya hubungan antar sel syaraf ternyata tergantung dari manusia itu sendiri bagaimana mengolahnya. Bila ada lebih dari satu sel syaraf yang terhubung maka terciptalah “synapsis” yang kemudian teraktivasi secara “unik” untuk menghasilkan “sesuatu” sesuai dengan maksud dan tujuannya.

Teori probabilitas kejadian
Probabilitas merupakan angka kemungkinan yang memiliki rentang nilai dari 0 – 1. Semakin probabilitas mendekati 1 maka dikatakan semakin mungkin sesuatu pasti terjadi. Begitu pula sebaliknya. Para ahli probabilitas membagi daerah kemungkinan dalam dua wilayah besar yaitu
1. Kurang dari 0.5 = tidak mungkin terjadi
2. Di atas 0.5 = mungkin terjadi
3. 0.5 = batas ambang antara tidak mungkin dan mungkin
Jadi, bisa dikatakan bahwa orang-orang yang “bermain” di wilayah probabilitas di atas 0.5 adalah orang-orang yang lebih mengandalkan logika. Sedangkan yang sebaliknya, adalah orang-orang yang lebih mengandalkan naluri. Bagaimana dengan yang “bermain” di wilayah batas ambang ? Ini barangkali yang dikatakan “orang bingung, ragu, dll”

Probabilitas di atas 0.5
Manusia yang memiliki struktur otak kanan yang lebih besar dari otak kirinya, konon akan memiliki kemampuan logika yang (semestinya…) luar biasa. Artinya, kemampuan cara berpikirnya lebih banyak dipengaruhi oleh gejala-gejala alam yang bersifat logis dan pasti. Sedangkan gejala-gejala alam yang bersifat ketidakpastian, mungkin dan tidak mungkin, biasanya dinomor-duakan. Khususnya gejala-gejala yang bersifat kemungkinan, biasanya masih digunakan selama memiliki tingkat probabilitas yang mendekati kepastian (di atas 0.5).

Potensi positif dari wilayah ini :
1. Cara berpikir yang logis, rasionalis, praktis, dengan didukung oleh data dan informasi yang (biasanya dan seharusnya) valid dan uptodate.
2. Lebih percaya diri dalam menghadapi hidup di dunia.
3. Tidak gampang menyerah dalam menghadapi masalah.
Potensi negatif dari wilayah ini :
1. Tidak mudah menerima hal-hal yang bersifat tidak logis, irrasional, non-praktis. Padahal pada kenyataannya di dunia ini hal-hal seperti di atas tidak dapat dihindari.
2. Sikap percaya diri yang berlebihan dapat menimbulkan sifat sombong, arogan, ambisius.
3. Kekuatan logika yang dijadikan pedoman, pada level tertentu akan menjadi “keyakinan”, “way of life”, atau bahkan “agama” baru bagi dirinya.
4. Pada saat menghadapi masalah yang sarat dengan gejala-gejala irrasional dan tidak logis, biasanya akan menghadapi “pertarungan hebat” di dalam dirinya. Bila hal ini berlanjut pada level tertentu akan berakibat fatal bagi dirinya.
Probabilitas di bawah 0.5
Manusia yang memiliki struktur otak kiri yang lebih besar dari otak kanannya, konon akan memiliki naluri yang (semestinya…) luar biasa. Artinya, kemampuan cara berpikirnya lebih banyak dipengaruhi oleh gejala-gejala alam yang bersifat irrasional dan ketidakpastian. Sedangkan gejala-gejala alam yang bersifat logis dan pasti, biasanya dinomor-duakan. Gejala-gejala alam yang bersifat logis dan pasti akan dianggap sesuatu yang tidak perlu dipikirkan (idealnya….), karena semua itu  sudah pasti.

Potensi positif dari wilayah ini :
1. Lebih menganggap hal biasa untuk gejala-gejala alam yang pasti. Artinya, tidak akan menjadi beban pikiran.
2. Sikap percaya diri yang timbul biasanya dipicu oleh “keyakinan” akan “sesuatu”. Keyakinan di sini lebih diartikan pada “way of life” atau agama/kepercayaan.
3. Setiap menghadapi masalah, selalu berpedoman pada adanya “kekuatan lain” yang akan selalu menyertainya.
Potensi negatif dari wilayah ini :
1. Terlalu menggampangkan gejala-gejala yang bersifat logis dan pasti, kadang dapat berakibat pada “kemalasan berpikir”.
2. Sikap percaya diri yang timbul dari “keyakinan” akan “sesuatu” yang tidak proporsional kadang dapat mengakibatkan pola pikir yang selalu mengarah pada hal-hal yang bersifat klenik, mistik, dan sejenisnya.
3. Bergantungnya diri pada hal-hal yang irrasional yang berlebihan dapat menyebabkan pola pikir yang mengarah ke hal-hal yang bersifat prasangka (dugaan semata). bahkan kadang mengarah pada prasangka buruk.

Batas ambang 0, 5
Orang-orang yang berada pada batas ambang ini sudah pasti tidak memiliki satupun potensi kebaikan. Segala hal selalu ditimbang dan dipikirkan dalam wilayah yang “mengambang”atau KEBINGUNGAN.

Wilayah Optimal
Orang-orang yang mampu berada pada seluruh rentang daerah probabilitas seperti di atas adalah orang-orang yang telah berhasil mengoptimalkan “daya pikir”-nya.
Beberapa kemampuan yang timbul dari wilayah optimal (yang menurut orang biasa adalah tidak lazim) adalah sebagai berikut :
1. Hipnotist yaitu orang yang mampu mempengaruhi alam bawah sadar orang lain. Dengan teknik atau metode tertentu mampu secara efektif membangkitan potensi otak kanan yang di “rangsang” oleh potensi otak kiri . Pada  skala prosentasi tertentu hipnotizer  mampu menanamkan energi di sekitar otak dengan cara memberikan sugesti tertentu, menanamkan anchor/pemicu, menghilangkan trauma, dll. Dan  saat ini hipnotis modern dapat di pelajari secara ilmiah dan logis , dengan mempelajari berbagai fenomena fenomena kehidupan sehari hari.
2. Magnetist. yaitu orang yang mampu mempengaruhi orang lain melalui media sentuhan kulit atau gerakan tertentu. Energi yang terbangkitkan di otak, dengan disertai pembangkitan sumber energi alam atau energi pada tubuh ( tenaga dalam )  kemudian ditransfer melalui pori-pori kulit dengan media “bioplasmik” maka akan mampu mempengaruhi bahkan  keadaan orang lain.
3. Telepathist yaitu orang yang mampu mempengaruhi orang lain secara jarak jauh. Bila energi yang terbangkitkan cukup besar maka tidak menutup kemungkinan untuk melakukan transfer energi melalui udara alam sekitar. Biasanya, telepathist telah mampu membangkitkan wilayah potensi energi yang disebut dengan “daya cipta”. Wilayah energi daya cipta inilah yang bila tersalah dalam membangkitkan dan menggunakannya akan menjadi potensi energi prasangka.
4. Tele-kinesyst yaitu orang yang mampu menggerakkan sesuatu secara jarak jauh. Bila wilayah potensi energi daya cipta telah mampu dibangkitkan pada level tertentu maka bukan tidak mungkin seseorang akan mampu menggerakkan sesuatu dari jarak jauh. Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari pada saat terjadi kebakaran bisa saja seseorang mampu mengangkat kulkas sendirian. Hal ini oleh karena kondisi kritis yang memaksa dirinya membangkitkan wilayah potensi energi daya cipta untuk “bisa” mengangkat kulkas. Memang sepertinya kulkas disentuh tangan. Padahal sesungguhnya energi daya cipta yang keluar dari dirinya melalui seluruh tubuhnyalah yang “mengangkat” kulkas tersebut.
5. Illusionist yaitu orang yang mampu menciptakan ilusi/tipuan mata pada orang lain. Sesungguhnya illusionist adalah bagian dari kemampuan seperti yang telah diuraikan di atas, dengan skala prosentasi penggunaan wilayah potensi energi yang berbeda.
6. Mentalis yaitu orang mampu menggunakan kekuatan mental/jiwa-nya untuk melakukan sesuatu yang menurut orang lain tidak lazim. Dalam hal ini orang dimaksud telah mampu menyeimbangkan kekuatan naluri dan logikanya pada level tertentu.
7. Supra-naturalist yaitu orang mampu melakukan hal-hal irrasional bagi orang awam. Orang seperti ini sesungguhnya telah mengkhususkan dirinya untuk membangkitkan kekuatan nalurinya pada level yang tertentu hingga mampu menembus dinding pembatas antara dunia rasional dan dunia irrasional.
8. Multi-dimentionalist. Istilah ini jarang sekali dipakai. Yaitu orang yang telah mengoptimalkan dirinya hingga mampu berdiri di ruang multi-dimensi dalam waktu yang bersamaan. Biasanya, kemampuan ini hanya dimiliki oleh tokoh-tokoh suci / tokoh agama.

Terkadang, antar potensi di atas dapat bercampur secara acak pada satu orang, tergantung bagaimana orang tersebut mengembangkan dirinya.
Banyak orang di dunia ini tidak menyadari potensi dirinya, sehingga di kesehariannya bisa saja dia dapat berlaku menjadi salah satu dari tujuh jenis wilayah optimal di atas, walau sesaat, jarang, ataupun terjadi secara berkala.

Wallahu a’lam bissawaab. ( dari berbagai sumber )

Salam Selaras…

Mas Karyadi Ch

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s