PENGALAMAN Membantu Klien yang Mengalami GANGGUAN JIWA

Beberapa waktu yang lalu saya di minta klien untuk menerapi seorang anak lelakinya yang sudah 2 tahun lebih  mengalami gangguan jiwa sebut saja namanya Budi usianya baru 19 Tahun, pernah sekolah sampai kelas 2 SMK  , si Budi mengalami perubahan perilaku  ( gangguan jiwa ) yang sangat membuat repot dan bisa membahayakan  keluarganya maupun orang lain 

 

Si Budi ini sebenarnya tidak memiliki tanda dan gejala gangguan jiwa sejak kecil, berdasarkan pengamatan dan pengkajian  saya temukan sebuah fakta unik bahwa dia mengalami Sibling Rivalry ( Rivalitas saudara ) dengan saudara kandungnya yaitu adik perempuannya. Hampir setiap hari si budi merasa jengkel dan sering emosi dengan kebiasaan adik perempuannya yang memang malas membantu pekerjaan sehari hari ibunya seperti masak , mencuci , belanja , bersih bersih , dan lain lain walaupun sebenarnya adiknya mempunyai kecerdasan intelektual yang cukup baik. Saya melihat bahwa  si Budi ini sebenarnya tipe anak yang  penurut dan patuh pada orang tuanya  bahkan si Budi terbiasa membantu mencuci piring , membantu masak, bersih bersih , belanja ke warung dan sebagainya  yang seharusnya hal itu adalah pekerjaan  yang lebih pantas di lakukan oleh adik perempuannya .

 

Penyebab lain bahwa kemungkinan tanpa di sadari oleh orang tua si Budi karena menganggap  Budi adalah anak yang benar benar penurut, orang tua si budi  sering kali memerintah atau menasehatinya .Tetapi  justru itu adalah perintah atau komentar negatif  sehingga si Budi  merasa kesal jika selalu di suruh – suruh dan di atur atur padahal  si Budi merasa bahwa dirinya sudah menurut dan anak yang gampang di atur . Ungkapan dan komentar negatif  yang saya maksud adalah seperti :

“  Rono mangan lek ngaji ben pinter ngaji koyo adimu kae (  sana makan habis itu belajar / ngaji supaya pintar seperti adikmu itu )  “ ojo koyo ngono kuwi rak apik “ ( jangan seperti itu itu tidak baik )  “ Rasah dolan kene remangi mae asah asah “ (  jangan pergi main sini bantu ibu cuci piring ) “ Bodo ojo  koyo ngono kuwi…… “ ( Bodoh gak seperti itu ……) dan lain sebagainya

Komentar ,  ungkapan atau nasehat – nasehat yang terus menerus di sampaikan oleh orang tuanya  memicu perubahan dalam psikologis si Budi sehingga dia merasa kurang bebas , murung , merasa bodoh dan kurang mampu dalam berbagai hal karena selalu di nasehati , di komentari dan terus diperintah ini dan itu setiap hari .

Kekesalan dan emosi Budi terhadap adiknya , serta nasehat , ungkapan atau komentar negatif yang diterimanya setiap hari tersebut terakumulasi selama bertahun tahun membuat Budi secara mental merasa kebebasannya terganggu karena harus selalu mendengar dan menuruti nasehat / perintah orang tuanya . Pada akhirnya dia merasa bahwa dirinya di anggap kurang pintar di banding adiknya padahal adiknya di biarkan saja walaupun malas malasan. Padahal dia ingin seperti orang lain yang bisa  mudah menasehati adiknya. Dia merasa setiap keinginannya maupun pendapatnya masih selalu di anggap kurang baik  dan sebagainya.

Sehingga muncul sebuah keyakinan negatif dalam dirinya bahwa dia tidak seperti anak yang lain . Budi menjadi sering melamun sendiri dan berhayal ingin seperti anak anak yang lain atau bahkan berhayal seperti tokoh atau figur yang sering dia tonton di TV , Interaksi dengan teman teman sebayanya menjadi semakin berkurang dia lebih suka nonton TV atau VCD dan terus berhayal jadi orang hebat. lama – kelamaan Budi mulai mencari sesuatu pelampiasan dari kekesalan dan emosinya dengan berusaha  mendapatkan sesuatu entah itu berupa ilmu atau hal apa saja yang bisa membuat dia dianggap orang hebat.

Namun keinginan tersebut justru membuat Budi semakin stress berat karena kurang memahami apa yang seharusnya ia lakukan dan menjadi semakin stress karena kondisi lingkungan serta kondisi ekonomi keluarganya yang memang kekurangan ( miskin )

Dari analisa saya juga menemukan  penyebab lain adalah dari factor lingkungan yaitu tempat tinggal yang kurang sehat Situasi dan kondisi lingkungan yang buruk ( tempat tinggal yang kurang sehat ) menjadi salah satu faktor pendukung munculnya gangguan jiwa. Lingkungan tempat tinggal yang kurang sehat mudah sekali mengganggu  kesehatan Fisik .Gangguan fisik pada sistem saraf mampu merubah fungsi neurologis, dampak jangka panjangnya jika yang terkena adalah pusat pengaturan emosi akan memicu gangguan jiwa.

Perubahan perilaku  ( gangguan jiwa ) yang di alami si Budi muncul jika kondisi fisik kurang baik seperti tubuhnya deman atau masuk angin juga saat  mengalami strees berat. Perubahan prilaku si budi seperti :  Sholat atau membaca Al Qur’an ( Ngaji ) semaunya tidak sesuai aturan , sering menyanyi dan tertawa sekeras kerasnya, cepat emosi / marah tanpa sebab, melakukan hal hal aneh yang tidak sewajarnya , bahkan sering mengeluarkan kemaluannya lalu onani dan melakukan adegan sex yang aneh seperti  kesurupan, dll

Pihak keluarga telah membawa Budi ke Rumah Sakit Jiwa di magelang dan semarang bahkan puluhan paranormal telah di mintai tolong untuk mendapatkan perawatan dan kesembuhan-nya ,namun tetap saja masih sering kumat .

Tidak ada cara lain bagi saya sebagai seorang Hypnotherapist untuk lebih mengetahui akar permasalahan dari perubahan prilaku si Budi kecuali melakukan hypnosis .Saya meminta adik perempuan dari si Budi untuk bersedia menjalani therapy hypnosis . Saya bimbing dia masuk ke dalam kondisi trance yang dalam ( somnambulism ) dengan teknik yang saya kuasai  walaupun bisa di bilang aneh dan kurang wajar dengan beberapa sugesti saya kondisikan dia ( adik perempuannya Budi )  melalui kekuatan pikirannya mampu melihat dengan jelas dan nyata hal apa yang mengganggu pikiran dan menyebabkan si Budi mengalami sakit jiwa.

Selanjutnya yang terjadi adalah  adik si budi sangat ketakutan sekali melihat obyek / sesosok yang sangat pucat persis dirinya yang memegang sangat erat kaki kirinya , seketika dengan ketakutan dia berusaha mengusir sosok tersebut dengan cara menghentak hentakan kaki kirinya dengan keras dan berteriak “ pergi ! pergi ! pergi ! “ namun sosok tersebut semakin lengket dan kuat memegang   kaki kirinya

Maka segera saya berikan  sugesti dan transfer energi sehingga dia bisa lebih tenang dan berani mengadapi sosok tersebut kemudian  saya perintahkan dia untuk menciptakan hubungan sugesti dengan sosok tersebut agar bisa di ajak komunikasi , tetapi ternyata sosok tersebut berpindah ke belakang mendekap pundak dan tubuh dia  sangat kuat dan erat  dari belakang dan beberapa saat lalu menghilang .

Kejadian itu memang terasa begitu aneh , kok bisa seperti itu , apa sosok yang di lihatnya itu JIN atau sejenisnya yang  persis menyerupai  adiknya si Budi ???  . Bagi saya itu adalah gambaran energi negatif dari kebiasaan malasnya, perlu di ketahui bahwa sifat dari energi negatif adalah kotor , lengket dan  susah di kendalikan .

Setelah mengalami kejadian seperti  itu  saya lanjutkan proses hypnosis dengan meminta dia untuk menciptakan hubungan sugesti dengan alam bawah sadar kakaknya ( si Budi ) lalu mengirim pesan / sugesti agar kakaknya bisa sadar , sabar , sembuh , sehat , normal kembali , dan sebagainya , kemudian saya minta dia untuk lebih konsentrasi dengan daya imajinasi dan visualisasi menciptakan energi positif yaitu gambaran yang jelas dan nyata berbentuk  obat / sesuatu yang sangat ajaib dan mujarab bagi kesembuhan kakaknya .

Perlu di ketahui bahwa untuk menangani kasus seperti ini dengan hipnotherapi memang membutuhkan waktu yang agak lama . karena seperti yang saya sebutkan di atas bahwa Energi negatif memang susah di kendalikan, kotor dan lengket ,  Therapy selanjutnya yang sangat penting dalam pemulihan  kesehatan jiwa seseorang  adalah  Support system yaitu dukungan dari orang lain atau keluarga yang membantu seseorang bertahan terhadap tekanan kehidupan, stress yang menyerang seseorang akan melumpuhkan ketahanan psikologisnya, dengan dukungan dari sahabat, orang – orang terdekat, orang tua atau saudara maka seseorang menjadi lebih kuat dalam menghadapi stress. juga faktor lingkungan yang baik turut membantu proses pemulihan

Dari  kejadian atau  pengalaman diatas adalah merupakan sebuah kisah nyata tentang bagaimana  seorang anak remaja harus mengalami gangguan jiwa , hal itu terjadi karena sikap keluarga yaitu orang tua maupun anggota keluarganya yang terkadang orang tua selalu menuntut dan mengharapkan anak yang baik, yang penurut, yang cerdas, yang sopan dan berbagai tuntutan sikap yang lain, tanpa melihat perkembangan kondisi mental si anak.

Seharusnya orang tua memiliki pengetahuan yang cukup sehingga apapun keadaan anak kekurangan dan kelebihannya dapat diterima sebagai sebuah paket yang utuh . Juga tidak bisa di pungkiri bahwa faktor situasi dan  kondisi lingkungan yang buruk  berupa tempat tinggal yang kurang sehat atau pengaruh kondisi alam sekitar yang kurang baik memungkinkan sekali menjadi penyebab terganggunya kesehatan fisik  serta  ketahanan mental seseorang. Dari analisa pengalaman  di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa  keinginan / emosi yang tidak di management dengan bijak justru akan menjadi berbagai hayalan dan beban yang membelenggu pikiran.

Sebenarnya masih ada banyak faktor yang memicu munculnya gangguan jiwa, jika semua faktor bisa direduksi dan di minimalisir maka ke depannya  jumlah penderita gangguan jiwa dapat semakin berkurang .

Salam Selaras….

Mas Karyadi Ch

Master Sugesti Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s