GUNUNG DPR

Salah sebut “gedung”  menjadi “gunung”. agaknya ujaran itu ada benarnya juga. Lebih-lebih bila mengingat betapa DPR telah menjelma menjadi gunung(an) masalah di republik ini. Sebagaimana lazimnya gunung, juga sulit dijangkau, dan hanya indah terlihat dari jauh.

Akses ke “gunung” DPR bukan dipermudah malah dipersulit —dengan proyek kartu khusus dan pengamanan berlipat. Gunung DPR juga hanya bagus sebagai sebuah pemandangan, persisi di tengah lanskap kota, dengan hutan kecil nan hijau. Tetapi, juga sebagaimana isi dalam perut gunung, di dalamnya “bergolak lahar berapi”.

Perkara terhangat beberapa waktu lalu adalah proposal pembangunan Gedung Baru DPR RI, yang menyerap anggaran triliunan rupiah, dan akan diselesaikan dalam kurun tiga tahun. Usulan ini sekali lagi menyembulkan masalah laten DPR RI, ketiadaan sense of urgency dan miskin sense of priority

Jelas-jelas yang dibutuhkan adalah pembangunan karakter, atau character building, tetapi proposal pengajuan justru adalah pembangunan gedung baru (a new building). Senyata-nyatanya diakui semua pihak, termasuk internal dewan sendiri, tentang perilaku malas, tidak produktif, rajin mangkir sidang, dan rupa-rupa bau tak sedap lain, inilah problem prioritas di kantor senayan itu. Bila diperas jadi satu, maka sumber penyakitnya adalah karakter atau mental. Mentalitas tak bertanggung jawab dan mengingkari amanat politik publik.

Proposal Gedung Baru itupun tidak valid dari aspek argumentasi teknis. Bahwa sarana yang tersedia saat ini, yaitu Gedung Nuantara Satu sudah overload (melebihi kapasitas). Rujukan informasi bahwa diasumsikan ada 2500 penghuni di sana adalah lemah dari sisi pembuktian. Karena yang terjadi adalah lalu lintas dan mobilitas di Gedung DPR begitu cepat. Konsentrasi para penghuni kerap tersebar-sebar, bergerak ke segala pojok ruang dan bangunan yang tersedia —-di luar gedung Nusantara Satu, ada juga gedung yang lain.

Siapa lagi yang bisa menjaga rahasia bahwa Anggota Dewan jarang naik ke Gedung Nusantara Satu? Hingga lahir guyonan pedas tentang Anggota yang bertanya ke Security DPR: Mas, ruangan saya nomor berapa, ya?

Alasan lain untuk pengadaan gedung baru, yaitu masalah “penambahan ruang” Anggota Dewan, agar lega ketika menerima tamu / aspirasi daerah.

Faktanya: bukan perkara mudah untuk lolos dan menemui anggota DPR. Rakyat yang benar-benar butuh, harus melalui prosedur berlapis-lapis untuk naik ke atas. Komunitas DPR, senyatanya, hanya ramah untuk kelas tertentu saja. Sesungguhnya, jarang sekali aspirasi dan dialog publik berlangsung di ruang-ruang anggota, kecuali di ruang rapat. Begitulah….

Sudah pasti banyak fakta  menggiring pada asumsi tunggal, bahwa pembangunan Gedung Baru DPR lebih bermakna proyek materialistik, tinimbang perbaikan mutu DPR secara holistik.

Semoga Gunung DPR tidak meletus , tapi bisa benar – benar menjadi Gedung RAKYAT yang di cintai rakyat…..!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s