Bekerja untuk Hari Raya

Setiap kali menjelang hari raya Lebaran, aparat pemerintah dan media massa rajin mengawasi peredaran daging, kualitas dan distribusi makanan yang ada di pasar ? Juga masalah lain seperti angkutan umum, kondisi jalan raya, tingkat kriminalitas  dan sebagainya. Harusnya, menyangkut masalah-masalah sepenting itu, perhatian pemerintah harus konsisten setiap saat.


Kita tahu
bahwa hal ini adalah tradisi buruk yang sudah kita alami selama puluhan tahun. Sebagai contoh proyek perbaikan jembatan dan jalan raya sering dilakukan buru-buru demi mengejar tenggang waktu supaya bisa digunakan saat arus mudik Lebaran. Apakah kebiasaan seperti ini “sehat?” Tentu tidak. Kualitas jalan menjadi asal-asalan dan dalam waktu dekat pun jalan sudah rusak lagi.

Setiap menjelang hari raya Lebaran atau Natal, pejabat pemerintah sering over acting berkeliling pasar, lalu menebar pernyataan di media bahwa persediaan bahan makanan cukup. Di masa rezim Orde Baru, bahkan Menteri Penerangan wajib melakukan jumpa pers khusus untuk mengumumkan soal ketersediaan beras, terigu, daging dan lain-lainnya.  Kita semua tahu, pernyataan seperti itu diperlukan untuk menenteramkan rakyat secara psikologis. Meskipun itu bukan cara dan mekanisme yang akurat untuk mengetahui kondisi pasar secara riil, ahh… itu soal lain.   Oleh karena itu, di balik kegaduhan tersebut,  kita tentu berharap mereka pemerintah lebih  serius, bukan hanya untuk menimbulkan efek psikologis semata.
Di luar hiruk-pikuk hari raya-pun, semua masalah tersebut setiap hari merupakan masalah vital bagi kita semua. Daging gelonggongan misalnya, sudah belasan tahun diketahui dan nyaris seperti permainan tikus dan kucing. Aparat pengawas ada, dan kelihatan bekerja, tapi tidak pernah menyelesaikan masalah secara tuntas.
Begitu juga soal transportasi, misalnya jalan raya yang beraspal mulus dan tidak macet, ketersediaan angkutan umum yang aman dan manusiawi, setiap hari kita butuhkan dan sering tidak kita peroleh. Belum lagi soal keamanan dan ketertiban, layanan gawat darurat di jalan raya, kita masih harus menganggap itu belum bisa dihadirkan oleh pemerintah secara konstan dan merata.


Distribusi Tiket Lebaran

Samikin dan Sulastri serta ratusan orang lainnya tak bisa menahan  emosinya saat petugas Stasiun Pasar Senin Jakarta  menyatakan tiket arus balik kereta api dinyatakan habis, Kamis (29/ 7) pagi. Betapa tidak marah, loket baru buka 10 menit  sudah ludes  sementara  mereka( ratusan orang) mengantre sejak subuh.  Apa yang terjadi di Jakarta juga terjadi di daerah-daerah lain . Puluhan pengantre ada yang rela menginap di stasiun agar mendapat tiket mudik. Kejadian serupa juga terjadi di Stasiun Gambir yang menjual tiket kereta api (KA) kelas menengah ke atas.
Penjualan tiket mudik KA memang tidak pernah mulus dari tahun ke tahun. Persoalan masih berkutat pada tiket yang dirasa kurang oleh calon penumpang. Namun anehnya di sisi lain, calo-calo tiket terkadang bergentayangan bahkan kerja calo itu beberapa di antaranya bekerja sama dengan orang dalam. Kloplah sudah problemnya, di satu sisi calon penumpang tidak dapat tiket tapi di sisi lain ada calo menjual tiket dengan harga selangit.
Untuk kasus  ini  pihak PT  KA  beralasan bahwa penjualan tiket tidak hanya ada di stasiun, namun juga di beberapa tempat lain dan dijual secara online. Penjualan di luar stasiun itulah yang mengurangi secara drastis ketersediaan tiket di stasiun. Apakah memang demikian ?
Kementerian Perhubungan harus ( Wajib ) melakukan investigasi atau pengusutan soal ini. Untuk beberapa kasus memang sangat janggal, misalnya soal penjualan tiket di Pasar Senen Jakarta. Bagaimana mungkin puluhan ribu tiket kelas ekonomi bisa habis dalam waktu 10 menit. Jika alasannya karena penjualan online, juga tidak masuk akal karena pembeli online hampir dipastikan para pemburu tiket kelas bisnis ke atas.( gak mungkin orang seperti Samikin , sulastri dan ribuan orang yang profesinya BURUH membeli tiket secara online )
Sudah saatnya Kementerian Perhubungan mempunyai komitmen yang nyata kaitannya tiket KA atau segala tetek-bengek terkait mudik. Caranya dengan mengultimatum PT KA agar bisa menjadi penyelenggara angkutan Lebaran yang memuaskan. Sudah menjadi tugas PT KA untuk mendistribusikan tiket secara merata dan menumpas calo-calo tiket. PT KA juga sudah saatnya harus berani menindak tegas petugas yang bermain-main dengan penjualan tiket secara ilegal. Masyarakat tentunya ingin mendapatkan pelayanan maksimal pada arus mudik atau arus balik Lebaran. Dan sudah menjadi tugas negara dalam hal ini Kementerian Perhubungan untuk mewujudkan harapan masyarakat ini.

Mudik

Lebaran hanya  tinggal beberapa hari lagi dan berlalu. Semoga, setelah kejadian ini pemerintah mau bekerja lebih keras dan lebih cerdas, diawali dari perencanaan yang baik dan manajemen anggaran yang benar. Kalau itu sudah dilakukan, pelaksanaan yang didasari etos kerja maksimal, pasti akan membawa perubahan luar biasa di negeri ini.    Salam Selaras ….Mas Karyadi Ch

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s