Malam 1000 Bulan

Bagi umat Islam ( Muslim ) tentu telah mengetahui bahwa di dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang di sebut malam   Lailatul Qadar atau malam 1000 bulan yaitu malam turunnya Al Quran. Mengenai keutamaan dan kemuliaan malam Lailatul Qadar Allah telah berfirman : “Sesungguhnya kami telah menurunkan Al Quran pada malam Al Qadar dan tahukah kamu apa yang dimaksud dengan malam kemuliaan (Al Qadar) itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahterahlah (malam itu) sampai terbit fajar. “  (QS.Al Qadr ayat 1-5)

Puasa di bulan Ramadhan merupakan proses pembelajaran diri dan latihan dalam mencapai pencerahan jiwa melalui  kesadaran spiritual dan kesadaran rasional . Sebagaimana dalam kehidupan beragama yang selalu bersentuhan dengan dua kesadaran, yakni kesadaran spiritual dan kesadaran rasional. Keduanya adalah anak tangga untuk mencapai derajat takwa. Kesadaran spiritual membawa seseorang pada sebuah kesadaran sebagai seorang hamba untuk mengabdi kepada Tuhannya lewat ritual-ritual keagamaannya. Sedangkan kesadaran rasional adalah kesadaran seseorang tentang makna dirinya sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi, yang seharusnya menjadi pengejawantah akan sifat-sifat ketuhanan, seperti: pengasih ( Ar-Rahmaan ), penyayang ( Ar-Rahiim ), pemaaf ( Al-Ghafuur ), dan sebagainya kepada sesama makhluk (sebagai rahmat bagi alam semesta ).

Sebuah pembelajaran kritis terhadap makna dasar puasa adalah pembelajaran berempati kepada yang lain. Rasa lapar dan haus diharapkan menjadi entry point rasa empati itu. Ramadhan merupakan momentum terciptanya keadilan sosial.  Kesadaran ( awareness )  melalui tahapan ibadah puasa di bulan Ramadhan menurut pendapat pribadi saya dapat  di capai melalui beberapa tahab proses pembelajaran diri  yaitu :

Tujuh hari pertama  yaitu proses pembelajaran diri melawan Nafsu Supiyah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah kesenangan duniawi yaitu harta , tahta dan wanita . Manusia yang selalu menuruti nafsu supiyah-nya , maka kehidupannya terfokus pada hal hal yang bersifat duniawi yang pada akhirnya justru menjerumuskan manusia pada derajat yang rendah. Jika manusia sepenuhnya dikuasai nafsu supiyah ini, maka ia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk ( menghalalkan segala cara ) ” korupsi juga dianggap baik,”.

Tujuh  hari kedua yaitu proses pembelajaran diri melawan Nafsu Amarah yang dikenal dengan sebutan nafsun amaratu bissu’i. Nafsu Amarah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah kesombongan , kecerdasan emosi dan politik yang cenderung sombong ( merasa lebih hebat dari orang lain) . Jika manusia sepenuhnya dikuasai nafsu amarah ini, maka akan menjadi manusia yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jika nafsu amarah yang tidak terkendali justru menghancurkan kehidupannya ( masa depannya )

Tujuh hari ketiga, adalah perjuangan melawan nafsu aluamah atau nafsu serakah . Nafsu Aluamah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia kearah keserakahan . Manusia yang  selalu menuruti  nafsu aluamah akan cenderung berbuat kejam dan serakah , senang membuat celaka orang lain  , senang melihat penderitaan orang lain, bisa juga memfitnah atau bahkan membunuh lawan atau musuh politiknya . Jika manusia sepenuhnya dikuasai nafsu tirani ini, maka akan menjadi manusia yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. ” korupsi juga dianggap sebagai suatu keharusan ,”.

Sembilan hari terakhir adalah proses pembelajaran diri mendapatkan Nafsu Mutmainah sebagai perwujudan sahabat hidup manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia mengutamakan nafsu ibadah kepada tuhan yang Maha Esa dan nafsu berbuat baik terhadap sesamanya di simbolkan warna putih laksana sinar atau cahaya bulan. Pada tahap ini kita akan mencapai pencerahan jiwa melalui  kesadaran spiritual dan kesadaran rasional . Setelah sukses melalui 3 tahapan yaitu 21 hari puasa mengendalikan diri melawan hawa nafsu yang berupa Nafsu Supiyah, Nafsu Amarah , Nafsu Aluamah , yang  merupakan sifat – sifat kebinatangan yang ada pada diri manusia.  Sehingga  munculah  Nafsu Mutmainah yaitu nafsu yang terkendalikan dan terjaga dari perbuatan – perbuatan dosa.

Nah….pada 9/10 malam terakhir inilah akan datang satu malam yang di sebut malam Lailatul Qadar ( malam seribu bulan ) yaitu malam dimana jiwa seseorang mendapatkan petunjuk atau pencerahan. Dan ini tergantung dari bagaimana kita dalam menjalankan ibadah puasa tersebut , baik dari segi kwalitas maupun kelancaran dalam menjalankan puasa.  Mungkin banyak di antara kita karena sesuatu hal ,  menyebabkan kita berhalangan sehingga puasa kita sempat libur beberapa hari mungkin karena : sakit , haid , bepergian jauh , dsb.

Selanjutnya, ibadah puasa selama sebulan itu akan diakhiri dengan Hari Raya Lebaran  atau Idul Fitri (Id-al-fithr, “Siklus Fitrah”), yang menggambarkan tentang saat kembalinya fitrah atau kesucian asal manusia, setelah hilang karena dosa selama setahun, dan setelah pensucian diri dosa itu melalui puasa. Bagi jiwa-jiwa yang tercerahkan tersebut akan sempurna manakala kesalehannya juga menjadi bagian yang membahagiakan untuk sesama (rahmatan lil’alamin), terutama untuk mereka yang lemah (dhu’afa). Dengan zakat fitrah adalah sebuah pembelajaran nyata , dimana setelah selesai melaksanakan ibadah puasa (habulum minnallah) tidak lengkap jika ibadah zakat (hablumminannas) tidak tertunaikan. Sehingga ada sebagian ulama yang menyebutkan bahwa pahala puasa tergantung di antara langit dan bumi. Kesempurnaannya akan tergapai manakala para ahli puasa menunaikan zakatnya. Hal ini merupakan simbolisasi dari penyatuan kesalehan, yakni kesalehan personal kepada Tuhannya dan kesalehan sosial kepada sesamanya.

Malam turunnya Lailatul Qadar ( malam seribu bulan ) memang menjadi rahasia Allah, yaitu malam yang sangat rahasia. Artinya, tidak semua orang bisa meraih kemulian malam itu kecuali orang-orang tertentu, hal itu karena sifatnya melekat (intrinsik) dalam jiwa manusia dan bukan suatu entitas di luar dirinya. Terdapat pendapat yang mengatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan, hal ini berdasarka Hadist dari Aisyah yang mengatakan : ” Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan dan beliau bersabda, yang artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon” “ (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

Sebagai gambaran dari pengalaman spiritual yang pernah saya alami yaitu saat tengah malam setelah selesai sholat malam saya duduk bersila sambil berdzikir , saya menutup mata  tapi tidak sepenuhnya. Mata saya tetap melihat ke arah bawah dan pikiran saya konsentrasikan pada tengah tengah kedua alis saya . mendadak saya merasakan seperti sedang bersila di atas bumi yang terlihat bulat dan kecil . Beberapa saat kemudian saya melihat gambaran gelap kehidupan saya hingga saya menangis dengan air mata bercucuran, lalu muncul satu cahaya di susul ratusan atau mungkin ribuan cahaya putih terang dan akhirnya menjadi satu . Saat itu tubuh saya seperti tidak bisa gerak lalu menjadi sangat ringan seperti ada angin yang sangat lembut, hati dan pikiran saya sangat tenang dan damai yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Berikutnya sambil masih terus menangis saya melihat di pikiran saya gambaran2 hidup saya di masa depan yang sangat luar biasa dan tak terbayangkan sebelumnya, hingga waktu subuh tiba . Saat itu saya benar2 menemukan petunjuk dan kesadaran yang sangat luar biasa untuk melakukan perubahan besar pada diri saya .

Demikianlah uraian saya mengenai Lailatul Qadar ( malam seribu bulan ) . Mudah mudahan kita semua dapat di pertemukan dengan malam yang sangat luar biasa itu. Sehingga kita dapat mencapai pencerahan jiwa melalui  kesadaran spiritual dan kesadaran rasional secara nyata .  Dan bahwa segala kebenaran datangnya dari Allah, untuk itu saya sebagai manusia biasa yang jauh dari sempurna tentu tak luput dari salah dan lupa .  Kita semua di wajibkan untuk selalu berusaha memperbaiki kesalahan dan kekilafan supaya menjadi manusia – manusia yang  lebih berarti dan bahagia di dunia maupun akhirat…..

Salam Selaras… Mas Karyadi Ch ( Master Sugesti Indonesia )

Advertisements

One comment on “Malam 1000 Bulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s