TRADISI LEBARAN UNTUK KITA SEMUA

Tradisi Lebaran  merupakan  karya cerdas para leluhur kita. Hal ini dapat kita pahami dari catatan sejarah, dimana pada sekitar abad ke-15 yaitu pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut dan secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten (kabupaten) tersebut saling serang, saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Dalam tradisi Jawa menceritakan bahwa kemudian pada masa itu berdirilah kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu Kasultanan Demak yang di pimpin oleh Raden Fatah yang mendapat dukungan dari Walisongo . Kerajaan Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti Sunda kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan , kerajaan di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546).

Kerajaan Demak yang berwawasan Nusantara dengan Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kerajaan maritim yang besar.  Namun terancam oleh pendudukan Portugis di Malaka dan juga terjadi konflik internal yaitu permusuhan para elit politik yang saling berebut kekuasaan di sebabkan perbedaan keyakinan dan kepercayaan dalam memahami ajaran agama Islam itu sendiri maupun ajaran Agama lain serta terjadi konflik kepentingan  dalam merebutkan hak waris kerajaan sehingga terjadi perang saudara. Kondisi itulah yang di manfaatkan tentara Portugis, dengan mudah menguasai  pelabuhan-pelabuhan di Nusantara.

Menyadari hal tersebut maka Walisongo, terutama Sunan Kalijaga merasa sangat prihatin dengan kondisi dan karakter umat khususnya orang Jawa dalam kehidupan beragama, bermasyarakat serta berpolitik. Sehingga muncul istilah “Kriwikan Dadi Grojokan“ biasanya untuk menggambarkan keadaan yang berubah drastis, berawal dari hal kecil namun berimbas ke hal besar. Sebagai contoh dari pertengkaran anak kecil yang sedang bermain, berimbas pada perkelahian antar keluarga, dll. Dan sudah menjadi karakter masyarakat Jawa saat itu jika terjadi permusuhan baik antar anggota keluarga maupun antar kelompok biasanya berlangsung dalam waktu sangat lama (bertahun – tahun). Bahkan sering muncul berbagai istilah saklak seperti  “ Bener sepisan , olo sepisan “ artinya tidak peduli saudara sekandung, jika sekali membuat kesalahan maka seumur hidup akan di anggap terus salah. “ Dadi godong ora pak ngapek , dadi banyu ora pak nyibuk”, artinya:  meskipun saudara sekandung jika terjadi bermusuhan maka tidak ada kata maaf , di baratkan jadi daun tidak akan mau metik, jka jadi air tidak bakalan mau mengambil walaupun hanya setetes.

Menjadi suatu hal yang cukup sulit untuk merubah karakter masyarakat Jawa  saat itu, meskipun demikian bagi  Sunan Kalijaga tetap harus berbuat sesuatu untuk bisa merubah karakter masyarakat sebab hal tersebut jelas-jelas bertentangan dengan Ajaran Agama Islam. Untuk itulah Sunan Kalijaga berpikir keras dan mohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Maka di susunlah sebuah cara atau methode dakwah yang harus di sampaikan pada saat (moment) yang tepat dan juga selaras dengan kesenangan dan budaya masyarakat saat itu. Sunan Kalijaga mengajarkan arti pentingnya saling bersilaturrahmi, saling memaafkan, saling halal bi halal setelah satu bulan berpuasa Ramadhan mensucikan diri (hablumminallah) sehingga belum sempurna jika hubungan dengan saudara  maupun antar sesama di biarkan retak berantakan.

Tentu hal itu bukan perkara mudah untuk di laksanakan masyarakat Jawa yang masih memiliki berkarakter seperti  itu apalagi saat itu masyarakat baru mengenal Ajaran Agama Islam serta masih terbiasa dengan tradisi Agama Hindu–Budha yang sudah terbiasa melakukan ritual persembahan berupa makanan maupun buah-buahan sebagai ungkapan rasa syukur mereka.  Sunan Kalijaga tidak kehilangan akal, beliau memanfaatkan buah dan daun kelapa muda (janur) kemudian di buatlah “Ketupat“ dan sayur santan (Kelan Santen) dan juga “Lepet“ yaitu makanan yang terbuat dari beras ketan dan parutan kelapa yang di bungkus daun kelapa muda (janur). Kemudian Sunan Kalijaga mempersembahkan (membagikan) pada masyarakat sekitar, sambil beliau menyelipkan sebuah pesan semacam petuah “Monggo kulo aturi nampi Ketupat Kelan santen…Sedoyo lepat nyuwun pangapunten“ yang artinya  terimalah ketupat sayur santan…semua kesalahan mohon di maaf kan.

Ketupat

Ketupat

Nah…. dari apa yang telah di contohkan Sunan Kalijaga tersebut, kemudian di ikuti dengan senang hati oleh masyarakat. Mereka saling berbagi (munjungi) ketupat dan sayur santan serta lepet buatan mereka kepada sanak kadang  dekat maupun jauh dan para tetangga sekitarnya, sebagai sanana untuk menyambung tali silaturrahmi dan ungkapan permintaan maaf yang kemungkinan sulit di sampaikan dengan lisan secara langsung, namun hal itu dapat dilakukan dalam bentuk makanan yaitu “ketupat kelan santen“

Di jaman modern seperti saat sekarang ini permintaan maaf  dapat di sampaikan melalui berbagai media seperti  koran, tv, spanduk, sms, facebok, Twitter, dll.  Namun demikian tradisi lebaran untuk saling bersilaturrahmi kesanak saudara dan tetangga di kampung untuk saling bermaaf maafkan, halal bi halal pada saat Idul Fitri usai melaksanakan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, telah memunculkan tradisi baru yaitu tradisi mudik atau pulang ke kampung halaman. Tapi bedanya, tradisi mudik saat ini sudah menjadi tradisi umum bagi masyarakat Indonesia, tanpa mengenal Suku, Ras, maupun Agama. Tradisi mudik  menjadi milik siapa saja, milik masyarakat umum, milik kita semua, sebab siapapun yang pergi merantau pasti merindukan untuk pulang ke kampung halamannya.

Tradisi lebaran dapat diumpamakan sebagai oasis. …Sepertinya kita harus bangga dengan berubahnya nilai tradisi sektarian (agama tertentu) menjadi tradisi universal yang dimiliki oleh semua Agama, Ras dan Suku bangsa. Dan ternyata bangsa ini masih memiliki saat-saat yang paling indah, romantis, membahagiakan, ibarat oasis di tengah gurun politik dan perekonomian yang sedang carut – marut ini. Mudah-mudahan tradisi lebaran dan mudik menjadi momentum di mana masyarakat mengalami saat paling Insyaf, sebab

  • Korupsi untuk sementara cuti,  karena semua instansi libur dan  para pejabat banyak dikunjungi saudara serta kerabatnya nanti  bisa ketahuan (mboten pareng)
  • Aksi suap menyuap mereda, karena yang suka suap menyuap lagi pulang kampung, dan pada kenyang menikmati makanan dan parcel lebaran yang sedang gratis di mana-mana.
  • Mark up proyek mengalami jeda, karena pelakunya lagi sibuk belanja dan mempersiapkan lebaran.
  • Perselingkuhan lagi tanggal merah, sebab lebaran ini acara keluarga, maka Wil/Pil jarang berani nongol.
  • Penipuan, pencaloan untuk sementara berhenti,  karena para penipu dan para calo lagi nikmatin hasil tipuannya dari para pemudik.
  • Judi lumayan terlupakan, karena orang-orang lagi butuh duit buat beli baju baru buat diri sendiri serta anak istri.

Jadi, inti dari tradisi lebaran dan mudik yaitu moment yang sangat pas utuk bersilaturahmi saling maaf memaafkan untuk menghapus permusuhan dan dosa antar sesama, setelah dosa terhadap Allah mendapat ampunan dengan puasa Ramadhan. Tradisi lebaran dan mudik adalah tradisi Masyarakat Indonesia, meskipun banyak ongkos yang harus di bayar untuk bersilaturrahmi pada saat Lebaran, namun  harus kita akui ada rasa bahagia dan kegembiraan yang luar biasa saat kita dapat berkumpul bersama keluarga di hari raya Idul Fitri.  Yang terpenting bahwa setelah lebaran berakhir, tali  silaturrahmi tetap terjalin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Bagi anak anak kita Lebaran identik dengan “baju baru” untuk itulah ada anak yang nangis dan marah pada orang tuanya jika tidak di belikan baju baru, karena melihat semua temannya pakai baju baru. Padahal baju baru hanyalah simbol semata, yaitu simbol ke’baru’-an atau kebersihan hati dan pikiran kita. Tapi bukan berarti dengan memakai baju baru di saat lebaran, lalu kita menjadi “bersih” dari dosa. Mari kita tanamkan pengertian pada anak anak kita bahwa tradisi lebaran adalah momen tepat untuk saling memaafkan ,menyambung tali  silaturrahmi, memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan. Lebaran juga merupakan moment yang tepat untuk memperkenalkan sebagian besar anggota keluarga kita dengan sanak saudara yang berada jauh dari keluarga kita yang selama ini mungkin masih belum dikenal oleh anak anak kita . Bisa dengan mengajarkan anak untuk saling berbagi, saling bersilaturrahmi pada sanak saudara atau para tetangga . “Mari kita sambut  Lebaran dengan rasa gembira dan hati penuh syukur. Mari kita pererat tali silaturrahmi dan rasa kebersamaan.”

Semoga Allah menerima segala amal dan mengampuni segala dosa kita. Dan tentunya kita semua sepakat untuk lebih menghormati yang lebih tua,  menyayangi yang lebih muda dan saling mengasihi sesama…”

 

“Selagi kita masih di beri kesempatan untuk saling menyapa, bersilaturrahmi, dan saling maaf memaafkan…Apabila ada langkah saya yang membekas lara, kata-kata  yang merangkai dusta, atau tingkah laku saya yang menoreh luka…Tentu semuanya karna ketidaktauan, kekilafan dan kebodohan saya”

“Bukan karena tradisi, ambisi, atau sekedar basa basi….. Namun dengan kerendahan dan ketulusan hatiku… Pada kesempatan yang penuh berkah ini, ijinkan saya sekeluarga memohon Maaf Lahir Bathin. Taqobalallahu minna wa minkum…Minal ‘Aidin wal Faizin”

“Ketupat Kelan Santen…..Sedoyo Lepat Nyuwun Pangapunten”

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

Mas Karyadi Ch

Salam Selaras  Karyadi Ch

 

 

Advertisements

One comment on “TRADISI LEBARAN UNTUK KITA SEMUA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s