Gallery

KISAH PERJALANAN KE MERAUKE-PAPUA

Pada pertengahan Bulan Puasa kemarin atau tepatnya pada tanggl 28 Juli 2012, saya  berangkat menuju kabupten Merauke-Papua atas undangan mas Febry Cahyono GCI (golden Choice Institute) guna memberikan Motivation Training untuk siswa, guru dan orang tua disana. Perjalanan menuju kota Merauke itu ditempuh dengan menggunakan transportasi udara maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines (MNA) dari Semarang-Surabaya-Makasar- Merauke di tempuh sekitar 7 jam. Pagi hari Jum’at sekitar jam 7.00 WIT, saya  tiba di Bandara Mopah – Merauke di jemput oleh Mas Febri Cahyono (Trainer GCI) dan langsung diajak keliling kota Merauke, karena jadwal kegiatan Motivation Training  baru akan di laksanakan pada hari Minggunya.

Mas Karyadi,CH

Mas Karyadi,CH di Bandara MOPAH Merauke

 Kangguru di TN Wasur- Merauke

Kangguru di TN Wasur- Merauke

Dilihat dari kondisi geografi, Kota Merauke memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Papua. Secara geografi, kota Merauke adalah salah satu kota paling ujung timur Indonesia, sekaligus berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini ( Papua New Guinea). Disebabkan oleh jaraknya yang dekat dengan Australia, sehingga terdapat kesamaan karakteristik alamnya. Di sekitar Merauke terdapat savana, pohon kayu putih dan kangguru mengingatkan kita kepada Benua Australia.

Merauke terkenal dengan sebutan Kota Rusa, secara demografi penduduk merauke terdiri dari sekitar 18 Suku asli Papua dengan perbedaan bahasa dan kebudayaan. Suku-sukunya antara lain: Marind Anim, Sohoers, Moraori, Kanum, Yei, Kimaam, Muyu, Mandobo, Jair, Kuruwai, Kombai, Citak, Mitak. Yaghai, Awyu, Asmat, Wiyagar dan Yelmek. Sedangkan Suku pendatang terdiri dari Suku Jawa, Makassar, Bugis, Buton, Batak, Minahasa, Huli dan juga Tionghoa. Mayoritas penduduk Merauke berAgama Islam dan Kristen. Karena perbedaan bahasa dari masing-masing itulah, maka Bahasa Indonesia menjadi Bahasa penghubung atar suku asli di Merauke(Papua) maupun dengan suku-suku pendatang.

Siang harinya habis Sholat Jum’at di Masjid Babussalam, saya gunakan untuk beristirahat di penginapan yang di sediakan panitia, dan sore harinya saya bersama mas Febry  melanjutkan jalan jalan ke Taman Nasional Wasur  yang berjarak sekitar 13 km dari kota Merauke. TN Wasur memiliki luas area 412.387 ha. dengan berbagai jenis flora dan fauna yang sebagian diantaranya tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Seperti burung cendrawasih yang karena keindahan dan kecantikan bulunya terkenal sampai diseluruh indonesia bahkan sampai didunia. Rusa merupakan hewan simbol dari kota merauke selain itu juga terdapat Kanguru yang juga merupakan hewan khas Australia. Di Taman Nasional Wasur terdapat Rawa Biru yang merupakan satu-satunya sumber air bersih bagi Masyarakat Kota Merauke. TN Wasur juga merupakan tempat persinggahan burung-burung migran dari negara tetangga seperti australia maupun papua new guinea selain dari kutub utara yang akan ke kutub selatan maupun sebaliknya.

MUSAMUS di TN Wasur-Merauke

MUSAMUS di TN Wasur-Merauke

Di TM Wasur saya sangat tertarik dengan Musamus begitu sebutan penduduk lokal merupakan “istana” yang dibangun oleh koloni rayap. Menggunakan campuran dari rumput kering sebagai bahan utama dan liur sebagai semen untuk merekatkannya, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun istana rayap ini. Keistimewaan dari istana rayap ini adalah rancangan ventilasinya yang berupa lorong-lorong yang membantu melindungi dari air hujan, dan membantu melepas panas ke udara ketika musim panas tiba. Karena berbagai keistimawaan yang dipunyainya, maka tidak heran musamus dijadikan lambang daerah Kabupaten Merauke. Musamus ini hanya dapat ditemukan di beberapa tempat di dunia, dan untuk di Indonesia mungkin hanya ada di Merauke saja. Kita dapat menemukan Musamus di Taman Nasional Wasur dan di beberapa wilayah di Kabupaten Merauke.

Merauke memiliki lahan basah yang luas, sehingga berbagai spesies ikan seperti : ikan gabus, betik, Mujair, Gurami dan Tawes melimpah ruah di sana. Pohon Sagu merupakan sumber kebutuhan pokok, tumbuh disekitar sungai dan rawa. Budaya dan keseharian dari penduduk(Suku asli) yaitu  berburu hewan di hutan dan mencari ikan. Merauke adalah kota yang panas dan berdebu, tapi meskipun sinar matahari terasa menyengat, namun suhu udara di merauke  sekitar 26 derajat celsius, kemungkinan itu karena pengaruh   mencairnya salju di Negara tetangga Australia.

 

Mencari Sarang Semut

Mencari Sarang Semut

Sarang Semut Papua, sudah sejak dulu telah dimanfaatkan oleh Masyarakat pedalaman Papua sebagai obat. Tumbuhan endemik ini banyak dijumpai di padalaman Papua dengan jenis semut hutan yang berbeda dengan semut pada umumnya yang biasa dikenal dengan sarang semut papua dan telah terbukti mengandung senyawa aktif anti kanker, di mana dalam sarang semut tersebut terkandung air liur semut yang mengandung zat antibodi untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakit yang sering dialami oleh manusia, seperti: Berbagai jenis kanker dan tumor (kanker otak, hidung, payudara, lever, paru-paru, usus, rahim, kulit, prostate, (Kanker darah), gangguan jantung, terutama jantung koroner, stroke ringan maupun berat, gangguan fungsi ginjal dan prostat, benjolan-benjolan di payudara, ambeien(wasir), haid, keputihan, migran, paru paru(TBC), rematik  (encok), Gangguan alergi hidung, mimisan, bersin-bersin, sakit maag, melancarkan ASI juga melancarkan peredaran darah.

 

Suasana Pasar di Merauke

Suasana Pasar di Merauke

Untuk mengetahui secara jelas laju perekonomian di Kota Merauke, mas Karyadi,CH masih ditemani oleh mas Febry Cahyono pergi ke Pasar di Merauke yang mayoritas para pedagangnya dari suku pendatang. Aktivitas perdagangan cukup rame meskipun lokasi adalah pasar darurat, disebabkan terjadinya kebakaran pada waktu yang lalu, dan saat ini sedang dibangun Pasar 2 lantai yang cukup luas dan megah. Di Pasar Merauke saya pun membeli beberapa potong pakaian dan 3 kg ikan gurami serta makanan untuk berbuka puasa. Aktivitas kota Merauke di malam hari pun cukup rame. Pertokoan dan Mini Market serta tempat-tempat hiburan buka hingga malam hari. Jalan jalan keliling kota Merauke pada malam hari cukup menyenangkan. Banyak pedagang kaki lima yang mangkal di pingir pingir jalan raya. Kami pun mampir di warung tenda pingir jalan untuk  menikmati wedang ronde, yang sangat cocok buat kami untuk menghangatkan badan di malam hari. Dan saya pun tertarik untuk mencoba seperti apa nikmatnya Bakso daging Kangguru dan daging Rusa. Hemmmm…mantab !!!

 

Mas Karyadi, CH saat di Merauke

Mas Karyadi, CH saat di Merauke

Tentu masih banyak hal yang belum saya  ketahui tentang Merauke. Tapi yang jelas potensi Sumber Daya Alam di sana sangat-sangat luar bisa dan membutuhkan sentuhan tangan tangan trampil untuk mengelolanya secara maksimal. Nah kalo Anda punya nyali, atau mungkin bagi Anda yang saat ini kepingin cari kerja ke Malaysia. Coba pertimbangkan saran saya silahkan datang  dan mengadu nasib di Merauke, sebab menurut pengamatan saya, mayoritas pendatang yang berasal dari berbagai suku, telah sukses dan merasa nyaman hidup di sana……….* bersambung  (Mas Karyadi,CH)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s